Langsung ke konten utama

Benteng Indrapatra Bukti Sejarah Kerajaan Hindu di Aceh






Sebelum Aceh menjadi kota Serambi Mekah dengan masuknya agama Islam, pengaruh Hindu-Budha sudah terlebih dahulu ada dan berdiri beberapa kerajaan Hindu-Budha. Kerajaan Hindu yang pertama kali berdiri di Aceh pada abad ke VII Masehi yaitu Kerajaan Lamuri. Salah satu situs penting sejarah dari Kerajaan ini yaitu Benteng Indrapatra yang terletak di di sekitar pantai Ujoeng Kareung, tepatnya di Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Benteng ini merupakan salah satu banteng pertahanan yang dibuat untuk melindungi kerajaan dari serangan meriam para penjajah seperti Portugis.

Benteng Indrapatra memiliki arsitektur yang unik dan besar berukuran ukuran sekitar 70 x 70 meter dengan ketebalan banteng sekitar 2 meter dan ketinggian sekitar 4 meter. 
Teknik penyusunan batuan pada banteng memang sudah umum dilakukan pada masa lalu. Benteng ini tersusun atas batuan gunung atau batuan beku dengan berbagai bentuk ada juga yang dibuat menjadi bentuk pipih. Kemudian batuan ini direkatkan menggunakan batu kapur, tanah liat, kerang-kerang yang dihaluskan serta campuran cangkang telur. Pada bagian atas dari banteng dilapisi dengan campuran pasir halus agar batuan utama tidak terlihat. Pembangunan benteng menggunakan batu beku membuktikan bahwa pada zaman dahulu manusia juga sudah memahami tentang kekuatan batuan yang cocok digunakan sebagai bahan bangunan

Bagian badan benteng

Bagian atas benteng yang sudah lapisi pasir halus

 Benteng seluas 70 x 70 meter ini dibangun tepat dibibir pantai tepat menghadap selat Malaka yang merupakan kawasan dataran banjir. Hingga saat ini disekitaran banteng masih sering digenangi air sisa air hujan ataupun air pasang laut.. Pada saat ini didekat pantai sudah dibangun semacam beton pembatas guna menghalangi air laut yang akan masuk kekawasan banteng ini.

Pada Benteng terdapat lubang yang menghadap ke laut yang digunakan sebagai tempat pengintai lawan yang akan berlayar dikawasan ini . Di dalam benteng juga terdapat dua bangunan yang berbentuk kubah, yang di dalamnya terdapat sumur. Sumur dalam banteng ini dulunya digunakan sebagai tempat suci dalam ritual umat Hindu. Kubah ini juga tersusun atas batuan gunung yang karakteristiknya sama dengan benteng utama. Salah satu kubah sumur sudah roboh pada bagian atapnya, sedangkan sumur yang lainnya masih tetap utuh dengan kubah yang lengkap. 

Benteng pertama dengan kubah yang yang masih utuh

Benteng kedua dengan kubah yang sudah roboh


Pada bagian tengah benteng terdapat reruntuhan batuan yang diduga juga sebagai bangunan utama dari benteng ini. Bangunan ditengah benteng ini sudah tidak lagi berbentuk benteng hanya reruntuhan batuan hanya saja dan masih terbentuk pola bangunan sisa benteng.

Menurut cerita, dulunya ada empat banteng yang dibangun disini kemungkinan karena faktor usia dan Aceh sempat dilanda tsunami 2004 yang menyebabkan banteng ini hanya tersisa dua bangunan saja. Ada dua benteng yang masih utuh sedangkan dua lainnya sudah menjadi reruntuhan dan tumpukan batuan saja.
Bekas benteng yang telah menjadi reruntuhan batuan

Benteng ini dapat diakses dengan waktu tempuh sekitar 30 menit dari kota Banda Aceh dengan menggunakan sepeda motor. Kawasan ini juga sudah dilakukan peneglolaan oleh warga setempat dengan penarikan tarif parkir sekaligus tiket masuk sebesar Rp 5000/sepeda motor. 



x

Komentar